Minggu, 20 November 2022

Penyusunan Best Practise "Penerapan Model PjBL terintegrasi TPACK Materi Jaringan Komputer dan Internet Fase E SMK Negeri 1 Bulukerto

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah:
1. Peserta didik kurang termotivasi, tertarik dan terbiasa jika dihadapkan dengan bahan bacaan tentang literasi sains dan teknologi.
2. Peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran yang dilakukan.
3. Guru kurang memberi stimulasi tentang literasi sains dan teknologi pada peserta didik.
4. Guru belum menerapkan dengan baik model-model pembelajaran inovatif pada proses pembelajaran.

Praktik pembelajaran ini sangat penting dibagikan karena:
1. Sebagian besar guru mengalami hal yang sama dengan permasalahan yang saya hadapi.
2. Praktik pembelajaran ini dapat memotivasi saya dan guru lain untuk mendesain pembelajaran yang inovatif dan variatif.
3. Praktik pembelajaran ini dapat menjadi inspirasi dan referensi guru lain untuk mengatasi permasalahan pembelajaran yang sejenis.
4. Pada praktik pembelajaran ini menggunakan model Project Based Learningi (PjBL) dimana pembelajaran ini melibatkan peserta didik untuk berdiskusi dan berpikir kritis dalam mengerjan sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk.

Tantangan untuk mencapai tujuan yaitu:
1. Guru harus bisa meningkatkan motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran.
2. Peserta didik harus beradaptasi dengan model pembelajaran yang digunakan.
3. Interaksi diskusi peserta didik belum maksimal. Hal ini tampak pada salah satu kelompok yang masih belum berdiskusi dengan baik antar anggota kelompoknya.
4. Peserta didik belum terbiasa melaksanakan pembelajaran yang direkam oleh kamera.
5. Kurangnya kreativitas guru dalam memilih model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan materi pelajaran dan karakteristik peserta didik.
6. Penggunaan metode pembelajaran yang variatif sehingga peserta didik merasa tertarik dan antusias dalam mengikuti pembelajaran.
7. Guru harus lebih maksimal dalam mengembangkan diri dalam pelaksanaan pembelajaran inovatif
8. Guru harus bisa menggunakan media pembelajaran berbasis TPACK.
9. Manajemen waktu presetasi masih kurang maksimal.
10. Masalah teknis dari perlengkapan yang kurang pada pengecekan awal.

Dilihat dari tantangan tersebut bisa disimpulkan bahwa tantangan yang dihadapi melibatkan guru dari sisi kompetensi yang harus dimiliki dan ditingkatkan guru yaitu kompetensi pedadogik dan profesional. Sedangkan dari sisi siswa adalah rendahnya motivasi belajar dan kemampuan siswa dalam memahami materi dalam pembelajaran.
Langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan :
1. Mempelajari lebih banyak tentang model pembelajaran Project Based Learning ( PjBL) dengan sintaksnya.
2. Mempelajari lebih banyak tentang media ( Powerpoint , Canva, Google Form )
3. Membuat perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam praktik pembelajaran. Diantaranya merancang Modul Ajar, bahan ajar, media pembelajaran, LKPD, instrumen penilaian dan rencana evaluasi.
4. Mendesain pembelajaran yang menarik melalui GoogleForm dan Video Pembelajaran.
5. Mendesain soal Pre test dan Post test dengan aplikasi Google Form.
6. Mencari referensi yang dapat dijadikan masalah nyata yang dapat menarik perhatian peserta didik.
7. Mencari solusi dari tantangan atau masalah yang akan dihadapi .
8. Melakukan kajian literatur dari berbagai sumber belajar seperti buku dan juga internet terkait solusi dari tantangan yang dihadapi.
9. Merumuskan solusi yang terpilih.
10. Melakukan koordinasi dengan pihak sekolah seperti Kepala Sekolah, rekan guru dan teman sejawat.
11. Memberikan briefing kepada peserta didik melalui grup Whatsapp sebelum pembelajaran dimulai.
12. Membiasakan peserta didik melakukan pembelajaran berbasis proyek.
13. Mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan dalam pembelajaran seperti proyektor, speaker, dan laptop/Komputer.

Strategi yang digunakan :
1. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
2. Membuat media pembelajaran interaktif berbasis TPACK dengan menggunakan vidio pembelajaran dan slide Powerpoint
3. LKPD online dengan GoogleForm, berisi pertanyaan tentang masalah yang ha
rus diselesaikan.
4. Pre test & Post test dengan aplikasi Google Form.

5. Membimbing peserta didik yang belum memahami pengerjaan t
ugas dan membuat sederhana mungkin lembar kerja peserta didik pada kegiatan diskusi, agar peserta didik dapat aktif dalam kegiatan diskusi yang dilaksanakan.

6. Mengharuskan peserta didik untuk bertanya dan menanggapi petunjuk dan pernyataan yang diberikan dalam proses pembelajaran.


Prosesnya :

Adapun proses yang dilakukan yaitu :

1. Guru membuat perencanaan pembelajaran dengan membuat perangkat pembelajaran berupa Modul Ajar, LKPD, materi ajar, media pembelajaran, dan rencana evaluasi/penilaian.

2. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran (praktik) dengan perangkat pembelajaran yang telah dibuat.

3. Guru menyiapkan media yang akan digunakan dalam proses praktik pembelajaran yaitu PPT dan video pembelajar
an.
4. Guru menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dengan praktek sederhana dalam proses praktik pembelajaran.
5. Guru melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran (praktik) yang telah dilaksanakan.

Selasa, 08 Maret 2022

Menularkan Semangat pendidikan dari ujung timur Indonesia

Menularkan Semangat Pendidikan dari Ujung Timur Indonesia
Oleh : Indah Rahmawati, S.Kom

“ING NGARSA SUN TULADHA ING MADYA MANGUN KARSA, TUT WURI HANDAYANI ” adalah semboyan dari Bapak pendidikan kita yakni Ki Hajar Dewantara, dalam semboyan tersebut Ki Hajar Dewantara dimaknai sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, kekuatan lahir dan batin serta pendidikan karakter anak. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan di bagi atas 3 hal, yang pertama adalah membentuk budi pekerti yang halus, kedua mingkatkan kecerdasan otak dan yang ketiga adalah mendapatkan kesehatan badan. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan menjadi landasan manusia dalam berkehidupan dan membangun karakter manusia itu sendiri.
Seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat dan upaya peningkatan pendidikan di papua, guru – guru di wilayah papua dan pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan diwilayah papua khususnya di merauke., Hal ini dapat terlhat dari bertambahnya infrastruktur yang ada di wilayah merauke seperti perbaikan akses jalan, makin banyaknya didirikan sekolah baru dan semakin berkembangnya kampus- kampus di wilayah Merauke. Indikator tersebut dapat terlihat dari meningkatnya jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun dan berdirinya kampus - kampus swasta di Merauke.

Tak lepas dari upaya peningkatan kualitas pendidikan di merauke, Putra daerah atau OAP menjadi prioritas Utama dalam dunia pendidikan dengan diadakannya program affirmative action bagi putra daerah papua. Affirmative action menjadi kesempatan besar yang diberikan khusus untuk putra daerah papua dalam bentuk beasiswa bagi putra daerah papua yang ingin melanjutkan pendidikan didalam mapun diluar negeri. Kesempatan untuk mengukuti test masuk TNI maupun akademi kepolisan juga diberikan kuota khusus bagi putra daerah papua guna merealisasikan pemerataan pendidikan dan kesempatan untuk putra putri wilayah timur indonesia.
Pendidikan di papua yang pada saat ini mengalami peningkatan yang signifikan walaupun kendala kendala tetap ada pada setiap prosesnya, namun hal ini tidak mengurangi semangat para pendidik untuk terus membawa anak- anak papua untuk sejajar dengan anak- anak lainya di indonesia maupun sejajajar dengan bangsa- bangsa lain. Perjuangan guru- guru yang bertugas di daerah pedalaman yang masih belum tersentuh akses jalan yang layak maupun listrik perlu di apresiasi dan menjadikan semangat bagi diri kita semua. Bahwa pendidikan membawa kehidupan manusia untuk menjadi lebih baik adalah tanggung jawab kita bersama.